Showing posts with label Akidah. Show all posts
Showing posts with label Akidah. Show all posts

Tuesday, March 8, 2011

Aqidah Islam: Persoalan Tertinggi dalam Hidup

إنَّا كنَّا أَذَلَّ قَوْمٍ، فَأَعَزَّنَا اللهُ بِاِلإسْلَامِ، فَمَهْمَا نَطْلُبُ الْعِزَّ بِغَيْرِ مَا أَعَزَّنَا اللهُ أَذَلَّنَا اللهُ

Kami dulunya adalah kaum yang paling hina. Lalu Allah memuliakan kami dengan Islam. Kerana itu, jika kami mencari kemuliaan selain dari apa yang dengannya Allah telah muliakan kami maka Ia pasti menghinakan kami (HR al-Hakim; ia mensahihkannya dan disepakati oleh ad-Dzahabi).

Berbeza halnya dengan umat Islam saat ini. Meski akidah Islam tetap ada pada diri mereka, mereka masih mengalami kemunduran dalam berbagai bidang kehidupan. Padahal mereka sesungguhnya adalah umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia (lihat QS Ali Imran [3]: 110).

Salah satu penyebabnya adalah akidah Islam yang saat ini mereka anut tidak lagi difungsikan sebagaimana mestinya. Hal tersebut setidaknya terlihat pada tiga hal. Pertama: hilangnya ikatan akidah dengan pemikiran dan sistem Islam sehingga akidah tersebut tidak produktif. Kedua: hilangnya hubungan antara akidah dengan Hari Kiamat. Akibatnya, umat tidak berupaya agar kehidupan mereka diarahkan untuk menggapai indahnya kehidupan syurga dan menjauhi pedihnya azab neraka dengan berlomba-lomba meraih redha Allah SWT. Ketiga: akidah Islam juga tidak lagi dijadikan sebagai pengikat ukhuwah di kalangan umat Islam sehingga mereka terpecah-belah dalam berbagai bangsa dan negara.

Lalu bagaimana caranya menjadikan umat Islam kembali bangkit dengan akidah Islam yang mereka anut?

Pertanyaan tersebut dapat ditemukan jawabannya dalam Kitab Nizhâm al-Islâm bab “Tharîq al-imân” karya Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah, yang akan ditelaah lebih lanjut dalam tulisan ini.

Asas Kebangkitan

Bab “Tharîq al-Imân” dalam buku ini bermaksud menjelaskan bagaimana membangkitkan umat Islam dari kemudurannya dengan cara yang benar.

Kebangkitan yang hakiki menurut Syaikh An-Nabhani bukanlah berupa kemajuan dalam bidang ekonomi, teknologi, pendidikan, akhlak ataupun ketenteraan; namun pada peningkatan taraf berpikir. Pemikiran menjadi hal utama kerana ia yang menentukan baik-buruknya tingkah laku seseorang atau umat dalam menjalani kehidupannya. Selain itu, kemajuan dalam bidang-bidang di atas dapat dengan mudah diperoleh jika telah terjadi peningkatan taraf berpikir pada diri mereka.

Namun demikian, peningkatan taraf berpikir yang dimaksud bukan sekadar kerana adanya perubahan dan peningkatan apa yang difikirkan, misalnya dari sekadar memikirkan diri sendiri lalu meningkat dengan memikirkan keluarga atau umat manusia. Selama peningkatan taraf berfikir tersebut tidak dibangun oleh satu pandangan hidup tertentu maka perubahan yang dihasilkan tidak akan berkekalan kerana mudah berubah, tidak mampu memberikan ketenangan hidup serta tidak dapat memecahkan berbagai persoalan hidup manusia. Dengan demikian, orang tersebut tidak akan pernah bangkit.

Lalu pemikiran apa yang dapat membangkitkan manusia? An-Nabhani menjelaskan bahawa pemikiran tersebut adalah akidah, yakni pemikiran yang menyeluruh tentang:

a) Manusia, alam semesta dan kehidupan; apakah ketiganya diciptakan atau tidak.

b) Sebelum kehidupan; apakah ada pencipta atau tidak.

c) Setelah kehidupan; apakah ada Hari Kiamat atau tidak.

d) Hubungan manusia, alam dan kehidupan dengan sebelum dan setelah kehidupan; jika memang ada pencipta, bagaimana hubungannya dengan manusia di dunia; jika ada Hari kemudian, bagaimana hubungannya dengan kehidupan manusia di alam ini.

Dengan cakupan pemikiran yang mendasar (asâsiyyah) dan menyeluruh (syumûliyyah) tersebut, maka akan dapat dibangun di atasnya berbagai pemikiran cabang, yakni pemikiran dapat memberikan jawapan atas segala persoalan hidup manusia sehingga manusia dapat mengalami kemajuan dan kebangkitan.

Meski demikian, pemikiran yang menyeluruh tersebut belum menjamin bahawa kebangkitan yang dihasilkan adalah kebangkitan yang benar. Oleh kerana itu, pemikiran tersebut harus memenuhi dua kriteria. Pertama: harus sesuai dengan akal sehingga seseorang merasa puas dengan hujah (dalil) yang menjadi dasar pemikiran tersebut. Kedua: sesuai dengan fitrah manusia, yakni harus dapat memenuhi naluri beragama (gharîzah at-tadayyun) pada diri manusia, yakni adanya sifat lemah dan terbatas pada dirinya sehingga ia memerlukan pelindung dan pengatur. Dengan demikian maka pemikiran tersebut mampu memberikan ketenangan pada dirinya.

Agar pemikiran di atas dapat memuaskan akal dan memenuhi naluri beragama pada diri manusia maka untuk mencapainya harus ditempuh dengan proses berpikir secara jernih (al-fikr al-mustanîr). Proses berfikir yang jernih adalah proses berfikir yang mendalam (‘amîq) tentang suatu objek di atas, dikaitkan dengan apa yang ada di sekitarnya, dan yang berhubungan dengannya untuk mencapai hasil yang benar. Pentingnya proses berfikir jernih tersebut kerana pemikiran yang akan diperoleh tersebut akan menjadi asas kehidupan dan pandangan hidup sehingga ia memustahilkan adanya kesalahan sekecil apapun. Kesalahan hanya mungkin terjadi pada pemikiran cabang yang berasal dari asas tersebut.

Dalil Akidah

Kerana objek akidah di atas berkaitan dengan penetapan (itsbât) tentang hakikat sesuatu secara pasti maka ia pun harus dilandasi oleh dalil yang menyakinkan (qath’i) sehingga apa yang diyakini tersebut memang sesuai dengan realiti. Oleh kerana itu, akidah yang juga diistilahkan dengan iman didefinisikan sebagai at-tashdîq al-jâzim al-muthâbiq li al-wâqi’ (pembenaran secara pasti yang sesuai dengan realiti dan didasarkan pada dalil).

Syaikh an-Nabhani kemudian menjelaskan bagaimana akidah Islam dibuktikan dengan proses berfikir yang jernih dengan mengetengahkan dalil yang meyakinkan (qath’i). Pemikiran tentang alam, manusia dan kehidupan akan menghasilkan jawapan bahwa ketiganya terbatas dan lemah. Segala sesuatu yang lemah pasti memerlukan yang lain. Jika demikian maka ia pasti diciptakan. Dengan hujah demikian maka manusia pasti akan sampai pada kesimpulan akan adanya pencipta sekaligus pengatur ketiga hal tersebut. Dengan kata lain, ia telah sampai pada pemikiran tentang sebelum kehidupan dunia bahwa ketiganya diciptakan oleh Al-Khâliq.

Di dalam kitab Syakhsiyyah Islamiyyah I dan Naqd al-Isytirâkiyyah al-Marksiyyah dihuraikan lebih jauh mengenai dalil tentang kepastian adanya pencipta dan bantahan terhadap pandangan pihak-pihak yang menafikannya. Metod pembuktian seperti ini sejalan dengan metod al-Quran dalam menuntun manusia mengimani Allah SWT dengan cara mengajak mereka memikirkan hal-hal yang dapat diindera manusia di alam ini.

Syaikh An-Nabhani kemudian menjelaskan bahawa manusia hanya dapat berfikir pada hal-hal yang berada dalam jangkauan inderawinya. Dengan demikian, nama, zat dan sifat pencipta dan pengatur tersebut mustahil dapat diketahui oleh akal. Jika dipaksakan maka hanya akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang spekulatif sehingga tidak dapat diyakini kebenarannya. Padahal Islam mewajibkan akidah diyakini secara penuh dan tidak boleh ada keraguan sedikit pun. Selain itu, terdapat sejumlah nash yang mengharamkan untuk meyakini hal-hal yang bersifat spekulatif.

Di sinilah pentingnya pemahaman yang benar terhadap hakikat akal sehingga ia dapat ia difungsikan dengan tepat. Kekeliruan dalam memahami hakikat akal akan berakibat fatal dalam memahami dan meyakini persoalan yang berkenaan dengan akidah sebagaimana yang menimpa para mutakallimin. Kekeliruan tersebut bukan hanya telah menjadikan pembahasan akidah menjadi berjele-jele dan sulit, namun juga telah memberikan dampak yang serius bagi kemunduran umat Islam.

Untuk meyakini hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh akal maka diperlukan sumber lain yang dapat menjelaskan hal tersebut. Namun demikian, sumber tersebut tentu harus diyakini kebenarannya oleh akal manusia agar penjelasannya dapat diyakini. Untuk itulah diutus seorang rasul yang dibekali mukjizat sehingga setiap orang yang menyaksikan mukjizat tersebut dengan proses berfikir yang jernih yakin bahawa ia adalah utusan sang pencipta. Kehadiran seorang rasul juga merupakan cara untuk memenuhi naluri pada manusia untuk beribadah kepada pencipta tersebut dan adanya aturan yang mengatur dirinya yang penuh dengan kelemahan dan keterbatasan.

Di dalam Islam, rasul yang dimaksud adalah Nabi Muhammad saw dan mukjizatnya adalah al-Quran. Al-Quran juga berfungsi sebagai petunjuk kepada umat manusia tentang bagaimana menjalani kehidupan ini sesuai dengan aturan Penciptanya, Allah SWT. Penetapan bahwa al-Quran berasal dari Allah juga dengan menggunakan akal kerana terbukti tidak seorang pun yang dapat menandingi kehebatan gaya bahasanya baik oleh orang Arab hatta Nabi Muhammad saw. sekalipun.

Setelah terbentuk keyakinan terhadap al-Quran maka secara automatik seluruh isi kandungannya akan diyakini; seperti keimanan terhadap para nabi dan rasul sebelum Muhammad saw beserta kitab suci mereka, keimanan kepada Malaikat, dan keimanan pada kehidupan setelah dunia ini, yakni Hari Kiamat. Dengan demikian, terjawab sudah pemikiran tentang kehidupan setelah dunia, yakni akhirat, dan hubungannya dengan kehidupan manusia di dunia, iaitu bahawa manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan di dunia ini apakah sesuai dengan aturan Allah SWT atau tidak. Bagi yang taat diganjarkan syurga, sementara yang ingkar akan dibalas dengan siksa neraka.

Output

Kerana sifatnya yang mendasar dan menyeluruh serta diperoleh dengan proses berfikir yang jernih sehingga memberikan pembenaran yang pasti, maka akidah Islam merupakan landasan yang sangat kuat yang menghasilkan berbagai pemikiran cabang dalam seluruh kehidupan manusia. Dengan kata lain, akidah Islam merupakan landasan ideologi yang didefinisikan sebagai akidah yang diperoleh melalui proses berfikir yang melahirkan sistem kehidupan.

Dengan sifat tersebut, seseorang yang meyakini akidah Islam akan tunduk pada seluruh hukum-hukum yang bersumber dari akidah tersebut, yakni syariah Islam secara menyeluruh tanpa membezakan antara satu dengan yang lain seperti antara solat dan Khilafah, zakat dan jihad fi sabilillah, thaharah dan qishâsh, dll.

Seseorang yang meyakini akidah Islam yang benar akan menjadikan akidah tersebut sebagai dasar bagi seluruh pemikiran (’aqliyyah) dan kejiwaan (nafsiyyah)-nya. Ia pun akan berupaya untuk menerapkan seluruh hukum-hukum yang terpancar dari akidahnya dalam sebuah negara kerana metod kebangkitan hanya dapat diraih dengan menerapkan suatu pemerintahan yang berdasarkan akidah. Inilah yang terjadi pada bangsa Arab yang bangkit dengan Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw yang kemudian diterapkan pada suatu negara. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada Eropha dan Uni Soviet yang masing-masing bangkit dengan idea sekularisme dan materialisme yang diterapkan dalam pemerintahan—meski dua yang terakhir tidak menghasilkan kebangkitan yang benar, kerana akidah yang dijadikan asas adalah akidah yang salah. Namun yang pasti, hal tersebut menjadi bukti bahawa adanya akidah semata belum cukup untuk melahirkan kebangkitan tanpa adanya negara. Wallâhu a’lam bis shawâ

Thursday, September 10, 2009

Tauhid Asma' wa al-Sifat

Tauhid ini bermaksud beriman kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Maksud beriman di sini ialah menyakini dengan pasti bahawa Allah mempunyai nama-nama dan sifat-sifat yang khusus bagiNyasebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah RasulNya saw menurut apa yang layak bagi Allah swt, tanpa ta'wil dan ta'thil, tanpa takyif, dan tamtsil, berdasarkan firman Allah Subhannahu wa Ta'ala : "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (Asy-Syura: 11)

"Dia lah Yang menciptakan langit dan bumi; ia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan menjadikan dari jenis binatang-binatang ternak pasangan-pasangan (bagi bintang-binatang itu); Dengan jalan Yang demikian dikembangkanNya (zuriat keturunan) kamu semua. tiada sesuatupun Yang sebanding Dengan (ZatNya, sifat-sifatNya, dan pentadbiranNya) dan Dia lah Yang Maha Mendengar, lagi Maha Melihat".


Allah menafikan ada sesuatu yang sebanding dengan diriNya atau menyerupaiNya. Ayat di atas menggambarkan Allah itu maha mendengar dan maha melihat. Adakah sama pendengaran dan pengelihatan Allah dengan manusia. Adakah Allah melihat dengan mata dan mendengar dengan telinga seperti manusia dan makhluk ciptaanNya. Maha suci Allah dari bersifat sedemikian. Namun Allah dengan pasti menetapkan bahwa Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Melihat dan Dia diberi nama dan disifati dengan nama-nama dan sifat-sifat yang Dia berikan untuk diriNya dan dengan nama dan sifat yang disampaikan oleh RasulNya.

Tujuan Allah menyifati diriNya dengan sifat yang kelihatan sama dengan makhlukNya bukanlah bertujuan menyamakan diriNya dengan makhluk. Sebenarnya ia bertujuan untuk memudahkan manusia memahami sifat Allah, dengan menggunakan istilah/bahasa yang difahami manusia. Begitu juga dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah yang lain. Al-Qur'an dan As-Sunnah dalam hal ini tidak boleh dilanggar, karena tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah melainkan Allah sendiri dan tidak ada sesudah Allah orang yang lebih mengetahui tentang Allah melainkan RasulNya.

Oleh itu perkara penting yang semestinya dilaksanakan oleh muslim dan mu’min dalam hal berkaitan asma’ dan sifat ini ialah seperti berikut:

i. Ta’wil / Tahrif secara bahasa bererti merubah dan mengganti. Menurut pengertian syar’i bererti: mengubah lafazh Al Asma’ul Husna dan Sifat-sifat-Nya Yang Maha Tinggi atau makna-maknanya. Mengubah maksud asal yang dijelaskan oleh al-Qur’an berkenaan asma’ dan sifat. Contoh Puak Jahmiyyah, yang menta’wilkan ‘istawa’ (bersemayam) dengan istaula (menguasai) dalam firman Allåh yang artinya:
“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.
(Taa-Haa: 5)
Al Yadu (tangan), dengan an ni’mah (nikmat).

ii. Ta’thil – bermaksud menafikan sama sekali akan asma’ dan sifat Allah. Allah tetap dengan demikian walau apa pun sangkaan makhluknya. Ta’thil secara bahasa bererti meniadakan. Adapun menurut pengertian syar’i adalah : Meniadakan sifat-sifat Ilahiyah dari Allah Ta’ala, mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut pada Dzat-Nya, atau mengingkari sebagian darinya. Penolakan terhadap Allah atas kesempurnaan sifat-Nya yang suci, dengan cara meniadakan Asma’ dan Sifat-sifat-Nya, atau sebagian dari-nya, sebagaimana yang dilakukan oleh para penganut paham Jahmiyah dan Mu’tazilah.

iii. Takhyif – bermaksud bertanya pula bagaimana keadaannya Allah yang bernama dan bersifat dengan berbagai-bagai pertanyaan yang tidak kemana-mana. Takyif bererti bertanya dengan kaifa, (bagaimana). Adapun yang dimaksud takyif di sini adalah menentukan dan memastikan hakikat suatu sifat, dengan menetapkan bentuk/keadaan tertentu untuknya. Inilah akidah yang dipegang oleh kaum salaf, sebagaimana dituturkan oleh Imam Malik Rahimahullah Ta’ala ketika ditanya tentang bentuk/keadaan istiwa’, Beliau menjawab :
“Istiwa’ itu telah diketahui (maknanya), bentuk/ keadaannya tidak diketahui, mengimaninya wajib, sedangkan menanyakan (bagaimana)nya (adalah) bid’ah.” [Fatawa Ibnu Taimiyyah, V/144]

Semua sifat Allah menunjukkan makna yang hakiki dan pasti. Kita mengimani dan menetapkan sifat tersebut untuk Allah, akan tetapi kita tidak mengetahui bentuk, keadaan, dan bentuk dari sifat tersebut. Yang wajib adalah meyakini dan menetapkan sifat-sifat tersebut maupun maknanya, secara hakiki, dengan memasrahkan bentuk/keadaannya. Tidak sebagaimana orang-orang yang enggan tahu terhadap makna-maknanya.


iv. Tamsil – bermaksud menyamakan atau menyerupakan Allah dengan apa jua keadaan, bentuk, sifat dan perbuatan yang terdapat pada makhluk ciptaanNya. Allah maha suci dari apa yang kita serupakan. Apa yang tergambar dan terlintas dalam fikiran kita tentang Allah itu bukanlah Allah. Tamtsil artinya tasybih, menyerupakan, yaitu menjadikan sesuatu yang menyerupai Allah Ta’ala dalam sifat-sifat Dzatiyah maupun Fi’liyah-Nya.

Tamtsil ini dibagi menjadi dua, iaitu :


Pertama

Menyerupakan makhluk dengan Pencipta. Misalnya orang-orang Nasrani yang menyerupakan Al-Masih putera Maryam dengan Allah Ta’ala dan orang-orang Yahudi yang menyerupakan ‘Uzair dengan Allah pula. Maha Suci Allah dari itu semua.

Kedua

Menyerupakan Pencipta dengan makhluk. Contohnya adalah orang-orang yang mengatakan bahwa Allah mempunyai wajah seperti wajah yang dimiliki oleh makhluk, memiliki pendengaran sebagaimana pendengaran yang dimiliki oleh makhluk, dan memiliki tangan sebagaimana tangan yang dimiliki oleh makhluk, serta penyerupaan-penyerupaan lain yang bathil. Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan.


Maka barangsiapa yang mengingkari nama-nama Allah dan sifat-sifatNya atau menamakan Allah dan menyifatiNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya, atau men-ta'wil-kan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan RasulNya.

Pendapat Imam Salaf Mengenai asma’ dan sifat Allah swt.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata: "Kemudian ucapan yang menyeluruh dalam semua bab ini adalah hendaknya Allah itu disifati dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya atau yang disifatkan oleh Rasul-Nya, dan dengan apa yang disifatkan oleh As-Sabiqun Al-Awwalun (para generasi pertama), serta tidak melampaui Al-Qur'an dan Al-Hadits.

Imam Ahmad Rahimahullaah berkata, Allah tidak boleh disifati kecuali dengan apa yang disifati olehNya untuk DiriNya atau apa yang disifatkan oleh RasulNya, serta tidak boleh melampaui Al-Qur'an dan Al-Hadits.

Madzhab salaf menyifati Allah dengan apa yang Dia sifatkan untuk DiriNya dan dengan apa yang disifatkan oleh RasulNya, tanpa tahrif dan ta'thil, takyif dan tamtsil. Kita mengetahui bahwa apa yang Allah sifatkan untuk DiriNya adalah haq (benar), tidak mengandung teka-teki dan tidak untuk ditebak.

Sebagaimana yang kita yakini bahwa Allah Subhannahu wa Ta'ala mempunyai Dzat, juga af'al (perbuatan), maka begitu pula Dia benar-benar mempunyai sifat-sifat, tetapi tidak ada satu pun yang menyamaiNya, juga tidak dalam perbuatanNya. Setiap yang mengharuskan adanya kekurangan dan huduts maka Allah Subhannahu wa Ta'ala benar-benar bebas dan Mahasuci dari hal tersebut.


Madzhab salaf adalah antara ta'thil dan tamtsil. Mereka tidak menyamakan atau menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhlukNya. Sebagaimana mereka tidak menyerupakan DzatNya dengan dzat pada makhlukNya. Mereka tidak menafikan apa yang Allah sifatkan untuk diriNya, atau apa yang disifatkan oleh RasulNya. Seandainya mereka menafikan, berarti mereka telah menghilangkan asma' husna dan sifat-sifatNya yang 'ulya (luhur), dan berarti mengubah kalam dari tempat yang sebenarnya, dan berarti pula mengingkari asma' Allah dan ayat-ayatNya.


Wednesday, September 9, 2009

Tauhid Rubbubiyyah

Para ulama' Mutakallimin telah mengkelaskan tauhid kepada 3 jenis. Tujuan utamanya ialah untuk memudahkan pemahaman manusia dalam mengenal Allah swt. Walaupun ianya tidak diajar oleh Rasulullah saw tetapi ia sangat berguna untuk orang Islam dalam mengenal Allah swt dalam erti kata yang sebenarnya.

Tauhid dibahagikan kepada Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma' dan Sifat. Untuk kali ini saya akan membincangkan mengenai Tauhid Rubbubiyyah.

Tauhid Rubbubiyyah

Umumnya ia adalah berkenaan dengan segala perbuatan Allah terhadap hamba-Nya. Perbuatan atau af'al Allah seperti pencipta alam, pemberi rezeki, pemberi mudhorat, pengatur semua urusan dan segala-galanya tentang alam ini adalah berpunca daripada Allah swt. Tidak akan berlaku sesuatu perkara tanpa izin Allah. Tegasnya tauhid Rubbubiyyah ini meletakkan manusia agar mengakui dan menyakini bahawa tidak ada tuhan selain Allah dalam menciptakan seluruh alam dan mengakui hanya Allah taala sahaja pemilik mutlak terhadap alam secara keseluruhannya. Apa sahaja kehendakNya pasti akan berlaku dan tiada siapa yang mampu menghalang daripada berlaku. Ketundukkan dan keyakinan inilah yang dinamakan tauhid Rubbubiyyah.

Tauhid Rubbubiyyah secara mudahnya boleh diertikan mengenai perbuatan Allah terhadap makhlukNya. Tauhid ini dipercayai oleh semua manusia yang mempercayai kewujudan tuhan. Walaupun mereka tidak mengenal Allah dalam pengertian yang sebenar tetapi mereka tetap meyakini adanya suatu kuasa yang hebat yang menjadikan alam ini dan mentadbirkannya. Namun kepercayaan mereka ini tidak membawa mereka mengenal Allah kerana telah dikelirukan oleh agama-agama yang mereka anuti. Hanya Islam sahaja yang mampu mengenalkan manusia kepada Rabb sekelian alam dalam pengertian yang sebenarnya yang dikehendaki oleh-Nya.

Allah berfirman;

ولئن سألتهم من خلق السموت والأرض وسخر الشمس والقمر ليقولن الله فأنى يؤفكون

Maksudnya: Dan sesungguhnya jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka(yang musyrik) itu: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan yang memudahkan matahari dan bulan (untuk faedah makhluk2nya)?" sudah tentu mereka akan menjawab : "Allah". Maka bagaimana mereka tergamak dipalingkan (oleh hawa nafsunya daripada mengakui keesaan Allah dan mematuhi perintah-Nya)?al-Ankabuut : 61

Secara umumnya tauhid ini diyakini oleh semua manusia yang masih mempercayai kewujudan tuhan. Namun bagi orang-orang yang tiada agama dan fahaman komunis yang pada dasarnya menolak agama dan kebertuhanan, mereka tidak mempunyai tauhid rubbubiyyah. Ini kerana mereka mengatakan alam ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada pencipta dan kehidupan di dunia akan berterusan sampai bila-bila tanpa kesudahan. Bagi penganut agama lain selain Islam, mereka mempercayai juga tauhid rubbubiyyah ini. Bagaimanapun kepercayaan mereka tidak tauhid kerana mereka menyamakan Tuhan yang sebenar dengan samaan yang terdiri daripada patung-patung dan manusia yang mereka anggap sebagai tuhan.

Orang Kristian (dulu Nasrani) mengatakan Tuhan terdiri dari tiga oknum iaitu bapa, anak dan ruh suci yang masing mempunyai kuasa ke atas alam. Ini sangat berlawanan dengan Islam dan Yahudi yang menganggap hanya ada satu tuhan yang menguasai seluruh alam dan konsep rubbubiyyah ini yang diterima selama-lamanya.

Bagi penganut agama lain pula menganggap patung-patung sebagai perantaraan antara mereka dengan tuhan. Ini juga bersalahan dengan rubbubiyyah kerana Islam menolak penyamaan antara-Nya dengan makhluk.Syirik.

Dengan mempercayai konsep tauhid rubbubiyyah ini saya berpendapat orang Islam seharusnya memiliki sifat dan akhlak yang terpuji kerana mereka sebenarnya telah menyakini hanya Allah yang berkuasa semutlaknya ke atas diri mereka dan seluruh makhluknya. Allahlah yang mengaturkan segala-galanya. Allahlah yang menentukan segalanya. Allahlah yang memberikan segala-gala kepada seluruh makhluknya samada kita menyukainya atau membencinya.

Oleh yang demikian kenapa kita harus iri hati terhadap orang lain dengan kelebihan, kekayaan, kemasyhuran dan sebagainya yang dimiliki oleh mereka sedangkan kita mengetahui bahawa semua itu adalah pemberian Allah kepadanya. Jika kita tidak berpuashati dengan pemberian tersebut seolah-olah kita tidak berpuashati dengan pemberinya. Sedangkan pemberi tersebut adalah pemilik seluruh alam iaitu Allah swt. Mana mungkin kita boleh tidak puas hati kepada Allah sedangkan kehidupan kita ini pun adalah anugerah Allah yang tidak ternilai untuk kita.

Kita hidup dan merasakan nikmat kehidupan dan kelak Allah akan mematikan kita serta insyaallah kita akan dimasukkan pula ke dalam syurga (atas izinNya jua). Semua ini tidak pun menjadi taklif kepada Allah. Dia boleh menghidupkan dan boleh meniadakan kita semahunya. Jadi siapakah kita yang berani nak mempertikaikan kehendak Allah atas makhlukNya.

Namun realiti yang berlaku, masyrakat kita dan masyarakat lain sekalipun, perasaan tamak, irihati, hasad, dendam dan sebagainya sifat-sifat mazmumah kelihatan bermahajalela. Semua ini jelas kelihatan dalam masyarakat bagi yang mampu memikirkan. Ada yang tamakkan harta hingga sanggup berbunuhan, ada yang tamakkan kuasa hingga sanggup melakukan apa sahaja demi mendapatkannya dan mengekalkannya. Apa sahaja cara baik atau jahat, tuduh menuduh, bunuh membunuh, fitnah memfitnah, keji mengeji. Semua itu tidak lagi menjadi persoalan. Yang penting mereka dapat apa yang mereka inginkan. Rasuah sana rasuah sini, tak kira 10 ringgit atau berbilion ringgit semuanya dilakukan kerana tamak dan tidak puas dengan kurniaan Allah kepada mereka. Sedang mereka merasakan mereka boleh menongkat langit dan hidup selamanya, tetapi ingatlah mati itu sangat hampir dan di akhirat setiap amalan akan dihitung oleh Pemilik segala perhitungan. Wassalam


Wednesday, September 2, 2009

Tauhid Rubbubiyyah

Para ulama' Mutakallimin telah mengkelaskan tauhid kepada 3 jenis. Tujuan utamanya ialah untuk memudahkan pemahaman manusia dalam mengenal Allah swt. Walaupun ianya tidak diajar oleh Rasulullah saw tetapi ia sangat berguna untuk orang Islam dalam mengenal Allah swt. Tauhid dibahagikan kepada Tauhid Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asma' dan Sifat.

Tauhid Rubbubiyyah

Umumnya ia adalah berkenaan dengan segala perbuatan Allah terhadap hamba-Nya. Perbuatan atau af'al Allah seperti pencipta alam, pemberi rezeki, pemberi mudhorat, pengatur semua urusan dan segala-galanya tentang alam ini adalah berpunca daripada Allah swt. Tidak akan berlaku sesuatu perkara tanpa izin Allah. Tegasnya tauhid Rubbubiyyah ini meletakkan manusia agar mengakui dan menyakini bahawa tidak ada tuhan selain Allah dalam menciptakan seluruh alam dan mengakui hanya Allah taala sahaja pemilik mutlak terhadap alam secara keseluruhannya. Apa sahaja kehendakNya pasti akan berlaku dan tiada siapa yang mampu menghalang daripada berlaku. Ketundukkan dan keyakinan inilah yang dinamakan tauhid Rubbubiyyah.


Tauhid ini dipercayai oleh semua manusia yang mempercayai kewujudan tuhan. Walaupun mereka tidak mengenal Allah dalam pengertian yang sebenar tetapi mereka tetap meyakini adanya suatu kuasa yang hebat yang menjadikan alam ini dan mentadbirkannya. Namun kepercayaan mereka ini tidak membawa mereka mengenal Allah kerana telah dikelirukan oleh agama-agama yang mereka anuti. Hanya Islam sahaja yang mampu mengenalkan manusia kepada Rabb sekelian alam dalam pengertian yang sebenarnya yang dikehendaki oleh-Nya.

Allah berfirman;

ولئن سألتهم من خلق السموت والأرض وسخر الشمس والقمر ليقولن الله فأنى يؤفكون

Maksudnya: Dan sesungguhnya jika engkau (wahai Muhammad) bertanya kepada mereka(yang musyrik) itu: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan yang memudahkan matahari dan bulan (untuk faedah makhluk2nya)?" sudah tentu mereka akan menjawab : "Allah". Maka bagaimana mereka tergamak dipalingkan (oleh hawa nafsunya daripada mengakui keesaan Allah dan mematuhi perintah-Nya)?al-Ankabuut : 61

Secara umumnya tauhid ini diyakini oleh semua manusia yang masih mempercayai kewujudan tuhan. Namun bagi orang-orang yang tiada agama dan fahaman komunis yang pada dasarnya menolak agama dan kebertuhanan, mereka tidak mempunyai tauhid rubbubiyyah. Ini kerana mereka mengatakan alam ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada pencipta dan kehidupan di dunia akan berterusan sampai bila-bila tanpa kesudahan. Bagi penganut agama lain selain Islam, mereka mempercayai juga tauhid rubbubiyyah ini. Bagaimanapun kepercayaan mereka tidak tauhid kerana mereka menyamakan Tuhan yang sebenar dengan samaan yang terdiri daripada patung-patung dan manusia yang mereka anggap sebagai tuhan.

Orang Kristian (dulu Nasrani) mengatakan Tuhan terdiri dari tiga oknum iaitu bapa, anak dan ruh suci yang masing mempunyai kuasa ke atas alam. Ini sangat berlawanan dengan Islam dan Yahudi yang menganggap hanya ada satu tuhan yang menguasai seluruh alam dan konsep rubbubiyyah ini yang diterima selama-lamanya.

Bagi penganut agama lain pula menganggap patung-patung sebagai perantaraan antara mereka dengan tuhan. Ini juga bersalahan dengan rubbubiyyah kerana Islam menolak penyamaan antara-Nya dengan makhluk.Syirik.

Dengan mempercayai konsep tauhid rubbubiyyah ini saya berpendapat orang Islam seharusnya memiliki sifat dan akhlak yang terpuji kerana mereka sebenarnya telah menyakini hanya Allah yang berkuasa semutlaknya ke atas diri mereka dan seluruh makhluknya. Allahlah yang mengaturkan segala-galanya. Allahlah yang menentukan segalanya. Allahlah yang memberikan segala-gala kepada seluruh makhluknya samada kita menyukainya atau membencinya.

Oleh yang demikian kenapa kita harus iri hati terhadap orang lain dengan kelebihan, kekayaan, kemasyhuran dan sebagainya yang dimiliki oleh mereka sedangkan kita mengetahui bahawa semua itu adalah pemberian Allah kepadanya. Jika kita tidak berpuashati dengan pemberian tersebut seolah-olah kita tidak berpuashati dengan pemberinya. Sedangkan pemberi tersebut adalah pemilik seluruh alam iaitu Allah swt. Mana mungkin kita boleh tidak puas hati kepada Allah sedangkan kehidupan kita ini pun adalah anugerah Allah yang tidak ternilai untuk kita.

Kita hidup dan merasakan nikmat kehidupan dan kelak Allah akan mematikan kita serta insyaallah kita akan dimasukkan pula ke dalam syurga (atas izinNya jua). Semua ini tidak pun menjadi taklif kepada Allah. Dia boleh menghidupkan dan boleh meniadakan kita semahunya. Jadi siapakah kita yang berani nak mempertikaikan kehendak Allah atas makhlukNya.

Namun realiti yang berlaku, masyrakat kita dan masyarakat lain sekalipun, perasaan tamak, irihati, hasad, dendam dan sebagainya sifat-sifat mazmumah kelihatan bermahajalela. Semua ini jelas kelihatan dalam masyarakat bagi yang mampu memikirkan. Ada yang tamakkan harta hingga sanggup berbunuhan, ada yang tamakkan kuasa hingga sanggup melakukan apa sahaja demi mendapatkannya dan mengekalkannya. Apa sahaja cara baik atau jahat, tuduh menuduh, bunuh membunuh, fitnah memfitnah, keji mengeji. Semua itu tidak lagi menjadi persoalan. Yang penting mereka dapat apa yang mereka inginkan. Rasuah sana rasuah sini, tak kira 10 ringgit atau berbilion ringgit semuanya dilakukan kerana tamak dan tidak puas dengan kurniaan Allah kepada mereka. Sedang mereka merasakan mereka boleh menongkat langit dan hidup selamanya, tetapi ingatlah mati itu sangat hampir dan di akhirat setiap amalan akan dihitung oleh Pemilik segala perhitungan. Wassalam

IKLAN